Sabtu, 05 November 2016

LAHIRNYA KATA TASHOWWUF



********   LAHIRNYA KATA TASHOWWUF   **********

Imam Abu Hanifa_Lahir : 85 Hijriyah.-150 Hijriyah.( TABI’IN )
berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.
Dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar, hal 1.43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa yang mendukung jalan Sufi.” Imam Abu Hanifa berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.

Imam Malik_Lahir : 94-179 Hijriyah./716-795 Masehi ( TABI’IN )

Imam Malik berkata: “Barang siapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barang siapa mempelajari fikh tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).”
(diambil dari kitab ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, hal. 2:195


Imam Syafi’i_Lahir:  150-205 Hijriyah./767-820 M)

Imam Syafi’I berkata: “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:
1.mereka mengajariku bagaimana berbicara
2.mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut
3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf

Diambil dari kitab “Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam ‘Ajluni, hal.1: 341

Imam Ahmad bin Hanbal_Lahir : 164-241 Hijriyah/780-855 M

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata kpd anaknya : “Anakku kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam
hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” ( Diambil dari kitab Tanwirul Qulub hal.405, karya Shaikh Amin al-Kurdi )

Komentar Imam Ahmad bin hanbal tentang Sufi: ”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( diambil dari kitab Ghiza al-Albab, hal. 1:120)

Imam al-Muhasibi_Lahir :243 Hijriyah./857 M
Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasauf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya hal. 27-32.
Imam al-Qushayri_Lahir : 465 Hijriyah./1072 M)

Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan
diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyaf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .”
( diambil dari kitab : Ar-Risalat al-Qushayriyyah, hal. 2 )


Imam Ghazali_Lahir : 450-505 Hijriyah./1058-1111 M.

Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf: “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi
( Ditukil dari kitab : Al-Munqidh min ad-dalal, hal 131)

Imam Nawawi_Lahir : 620-676 H./1223-1278 M)

Dalam kitabnya Al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:
1. menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri
2. mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata
3. menghindari ketergantungan kepada orang lain
4. bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit
5. selalu merujuk masalah kepada Allah swt

( Maqasid wat-Tawhid, Hal. 20 )

Imam Fakhruddin Ar-Razi_Lahir :544-606 Hijriyah./1149-1209 M.

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi: “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku”.

( Diambil dari kitab Ictiqadat Furaq al-Musliman, hal. 72, 73 )

Ibn Khaldun_Lahir : 733-808 Hijriyah./1332-1406 M)

Ibn Khaldun: “Jalan sufi adalah jalan salaf,ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’in, and Tabi’
at-Tabi’in. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia”

( Dikutip dari kitab Muqaddimat ibn Khaldan, hal. 328 )

Tajuddin as-Subki berkata: “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah,dan melalui mereka Allah membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti dalam Ta’yad al-haqiqat al-‘Aliyya, hal 57 berkata: “tasawuf” dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah
Nabi dan meninggalkan bid’ah”


Ibn Taymiyyah_Lahir : 661-728 Hijriyah./1263-1328 M.

Dalam kitab Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, cetakan Cairo,
Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.”


Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.
Di antara para syaikh yang Ibnu Taimiyah sebut dan dimaksud adalah:

syaikh Ibrahim ibn Adham
syaikh Ma’ruf al-Karkhi
syaikh Hasan al-Basri
Rabiah Al-Adawiyya
syaikh Junaid ibn Muhammad ( Junaid Al-baghdaadi )
Shaikh Abdul Qadir Jilani
Shaikh Ahmad Ar-Rifa’i, dan Shaikh Yazid al-Bistami.

Mungkin hanya itu yg bisa saya rangkum kali ini, dengan tujuan untuk lebih memantapkan kembali ketauhidan kita kpd ALLOH SWT, dengan mengamalkan ilmu yg diwariskan melalui hamba Alloh yg mulia khususnya nama-nama yg tertulis diatas. sekaligus menyangkal TUDUHAN kalau TASHAWWUF itu ILMU BARU dari KOTA BASRAH/IRAQ, tidak ada di zaman SAHABAT, TABI’IN ataupun ATHBA’IT-TAABI’IN seperti yg dikatakan kalangan WAHABI…….padahal ILMU THASAWWUF itu sudah ada pada diri Rosululloh SAW yg diajarkan kpd Shohabat, Tabi’in dan Tabi’it Tâbi’in, Atbaa’it-Taabi’iinn hingga sampai kepada Ulama muta’akhirin yg konsisten mengikuti ILMU orang-orang SALAF….( bukan salafi wahabi yaa sorry )……..hehe
Hmmm, sudah barang tentu kitab-kitab klasik di jazirah arab kini banyak yg hilang krena dibombardir pihak tertentu yg ingin memutuskan “SANAD ILMU”, lalu bermunculan kitab versi FAHAM BARU yg SERBA BID’AH, mengangkat PERBEDA’AN, menciptakan “SKAT” dengan MUSLIM yg ada di NUSANTARA hingga munculnya PERDEBATAN.


( Ma’af jika tulisan ini banyak salah, mohon koreksi untuk pencerahan bagi saya, akhir kata saya ucapkan WALLOOHU A’LAM BIHAQIIQOTIL MUROOD )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar